Kata budaya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pikiran, akal budi atau adat-istiadat. Sedangkan definisi kebudayaan menurut Koentjaraningrat yaitu “menurut antropologi, kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar”. Pengertian tersebut berarti pewarisan budaya-budaya leluhur melalui proses pendidikan. Kebudayaan ini sangat erat hubungannya dengan masyarakat, sehingga kebudayaan menjadi ciri khas tiap daerah.
Budaya Indonesia adalah seluruh kebudayaan nasional, kebudayaan lokal, maupun kebudayaan asal asing yang telah ada di Indonesia sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945. Kebudayaan suatu daerah tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat yang memilki ciri khas, seperti rumah adat, alat musik daerah, pakaian adat, bahasa daerah (tradisional), senjata tradisional, lagu daerah, serta permainan tradisional. tidak diragukan lagi Indonesia memang kaya akan budaya. Dari Sabang sampai Merauke terdapat jutaan budaya khas daerah masing-masing, sehingga menanggulangi terklaim-nya budaya negeri kita seperti yang terjadi pada alat musik angklung.
Permainan tradisional juga dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari selain bahasa daerah. Permainan tradisional tersebut misalnya goncang kaleng, balap karung, ongklak-ongklok, patekong, hompimpa, congklak, egrang, dan masih banyak lagi permainan tradisional yang menjadi ciri khas suatu daerah. (Sumber : wikipedia.com)
Budaya Indonesia adalah seluruh kebudayaan nasional, kebudayaan lokal, maupun kebudayaan asal asing yang telah ada di Indonesia sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945. Kebudayaan suatu daerah tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat yang memilki ciri khas, seperti rumah adat, alat musik daerah, pakaian adat, bahasa daerah (tradisional), senjata tradisional, lagu daerah, serta permainan tradisional. tidak diragukan lagi Indonesia memang kaya akan budaya. Dari Sabang sampai Merauke terdapat jutaan budaya khas daerah masing-masing, sehingga menanggulangi terklaim-nya budaya negeri kita seperti yang terjadi pada alat musik angklung.
Permainan tradisional juga dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari selain bahasa daerah. Permainan tradisional tersebut misalnya goncang kaleng, balap karung, ongklak-ongklok, patekong, hompimpa, congklak, egrang, dan masih banyak lagi permainan tradisional yang menjadi ciri khas suatu daerah. (Sumber : wikipedia.com)
Sumber : Hagriez.wordpres.com
Egrang adalah permainan tradisional Indonesia yang belum diketahui secara pasti dari mana asalnya, tetapi dapat dijumpai di berbagai daerah dengan nama yang berbeda seperti: sebagian wilayah Sumatera Barat dengan nama Tengkak-tengkak dari kata Tengkak (pincang), Ingkau yang dalam bahasa Bengkulu berarti sepatu bambu dan di Jawa Tengah dengan nama Jangkungan yang berasal dari nama burung berkaki panjang. Egrang sendiri berasal dari bahasa Lampung yang berarti terompah pancung yang terbuat dari bambu bulat panjang. Dalam bahasa Banjar di Kalimantan Selatan disebut batungkau.
Permainan Egrang sendiri sangat unik karena sangat dibutuhkan ketrampilan dan keseimbangan tubuh bila menaikinya, makanya tidak semua orang baik orang dewasa maupun anak anak bisa bermain Egrang. Bentuk Egrang disesuaikan dengan pemakainya, sesuai dengan umur si pemakai. Bila yang bermain orang dewasa maka pembuatannya panjang dan tinggi, sedangkan untuk anak-anak bentuk dan ukurannya pun pendek.
Egrang terbuat dari batang bambu dengan panjang kurang lebih 2,5 meter. Sekitar 50 cm dari bawah, dibuat tempat berpijak kaki yang rata dengan lebar kurang lebih 20 cm.
Nah, permainan ini juga ada peraturan bermainnya. Permainan egrang dapat dikategorikan sebagai permainan anak-anak. Pada umumnya permainan ini dilakukan oleh anak laki-laki yang berusia 7-13 tahun. Jumlah pemainnya 2-6 orang. Permainan egrang ini tidak membutuhkan tempat (lapangan) yang khusus. Ia dapat dimainkan di mana saja, asalkan di atas tanah. Jadi, dapat di tepi pantai, di tanah lapang atau di jalan. Luas arena permainan egrang ini hanya sepanjang 7-15 meter dan lebar sekitar 3-4 meter.
Aturan Permainan egrang dapat dibagi menjadi dua, yaitu perlombaan lari dan pertandingan untuk saling menjatuhkan dengan cara saling memukulkan kaki-kaki bambu. Perlombaan adu kecepatan biasanya dilakukan oleh anak-anak yang berusia antara 7-11 tahun dengan jumlah 2-5 orang. Sedangkan, permainan untuk saling menjatuhkan lawan biasanya dilakukan oleh anak-anak yang berusia antara 11-13 tahun dengan menggunakan sistem kompetisi.
Apabila permainan hanya berupa adu kecepatan (lomba lari), maka diawali dengan berdirinya 3-4 pemain di garis start sambil menaiki bambu masing-masing. Bagi anak-anak yang kurang tinggi atau baru belajar bermain egrang, mereka dapat menaikinya dari tempat yang agak tinggi atau menggunakan tangga dan baru berjalan ke arah garis start. Apabila telah siap, orang lain yang tidak ikut bermain akan memberikan aba-aba untuk segera memulai permainan. Mendengar aba-aba itu, para pemain akan berlari menuju garis finish. Pemain yang lebih dahulu mencapai garis finish dinyatakan sebagai pemenangnya.
Sedangkan, apabila permainan bertujuan untuk mengadu bambu masing-masing pemain, maka diawali dengan pemilihan dua orang pemain yang dilakukan secara musyawarah/mufakat. Setelah itu, mereka akan berdiri berhadapan. Apabila telah siap, peserta lain yang belum mendapat giliran bermain akan memberikan aba-aba untuk segera memulai permainan. Mendengar aba-aba itu, kedua pemain akan mulai mengadukan bambu-bambu yang mereka naiki. Pemain yang dapat menjatuhkan lawan dari bambu yang dinaikinya dinyatakan sebagai pemenangnya.
Selain itu, terdapat nilai yang dapat diambil dari permainan ini. Nilai budaya yang terkandung dalam permainan egrang ini adalah kerja keras, keuletan, dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para pemain yang berusaha agar dapat mengalahkan lawannya. Nilai keuletan tercermin dari proses pembuatan alat yang digunakan untuk berjalan yang memerlukan keuletan dan ketekunan agar seimbang dan mudah digunakan untuk berjalan. Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada. (Sumber : kumpulansejarah.com)
Permainan egrang ini merupakan salah satu dari banyak permainan tradisional yang mulai tersingkirkan, apalagi di tengah-tengah kota yang serba modern. Tapi ternyata di kota tercintaku ini, Jember, telah ada komunitas yang membudidayakan permainan egrang yaitu komunitas ‘Tanoker’, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember.
Anak-anak komunitas Tanoker ini belajar berbagai pelajaran sekolah dan dari egrang, mereka belajar nilai-nilai kehidupan. Jadi, di komunitas ini mereka belajar sambil bermain. Tanoker sering diundang untuk menunjukkan keahliannya dalam bermain Egrang. Pernah saat Universitas Jember mengadakan workshop di New Sari Utama Jember yang mengundang Anies Baswedan, anak-anak Tanoker juga diundang untuk memberikan penampilan di sana. Egrang yang biasanya hanya untuk bermain biasa, oleh anak-anak Tanoker dimainkan yang kemudian menghasilkan suara unik dari bambu egrang tersebut. Selain itu, anak-anak Tanoker juga bisa bermain drum band di atas egrang. Komunitas ini juga mengadakan festival egrang di Jember. Di festival ini, mereka menunjukkan keahliannya yang bermain drum band di atas egrang. Mereka dapat berkonsentrasi mengatur keseimbangan mereka meskipun dengan memainkan musik. (Sumber : http://id.tanoker.org/)
Ada Pepatah mengatakan
“ Cintai budayamu layaknya engkau mencintai ibumu “
”Suatu Negara tidak akan menjadi negara yang besar jika tidak mengetahui jati diri dari budaya negara tersebut”
Nah, belajar dari komunitas Tanoker, ayo lestarikan budaya yang ada di negeri tercinta kita ini agar tidak punah apalagi di klaim oleh negara lain. Dan hal kecil sekalipun ternyata dapat memberikan kita pengetahuan akan nilai kehidupan.
video di bawah ini cuplikan festival egrang di Jember
sumber video : youtube.com
0 komentar:
Posting Komentar